Minyak Melemah Tinggalkan $94 Setelah Dolar Rebound Menguat
Tak dapat dipungkiri, bahwa kontrak berjangka minyak selain sebagai alat lindung nilai dan media pembentukan harga, juga merupakan salah saru alternatif investasi yang menarik. Oleh karena itu, pergerakannya dapat saja terjadi bukan karena faktor fundamental permintaan dan penawaran, tapi juga oleh faktor imbasan. Seperti yang terjadi hari ini (02/11), di mana minyak berakhir melemah oleh rebound menguatnya dollar, sehingga menurunkan daya tarik kontrak minyak sebanyak alternative investasi.
Seperti layaknya emas, harga minyak biasanya bergerak dalam arah yang berlawanan dengan dollar. Menguatnya nilai tukar dollar membuat kontrak komoditi menjadi alternatif yang kurang menarik, juga menurunkan perannya sebagai alternative lindung nilai dari kenaikan harga atau inflasi.
Atas spekulasi bahwa The Fed tidak akan lagi menurunkan suku bunganya pada tahun ini, dollar sejak malam tadi mulai tunjukkan adanya dorongan rebound. Sejalan dengan itu, harga minyak pun bergerak melemah. Pada penutupan sesi New York Mercantile Exchange, tercatat bahwa minyak mentah kontrak Desember turun sebesar $1.06 atau 1.1% $93.47 per barel. Sebelumnya pada sesi hari yang sama (Kamis), kontrak sempat melejit hingga ke level $96.24, rekor tertingginya sejak kontrak pertama kali diperdagangkan pada 1983. Adapun jika dibandingkan dengan harga tahun lalu, harga minyak telah naik sebesar 59% pada sepanjang tahun ini. (REUTERS/RISET-iwan)
Friday, November 2, 2007
Posted by Russley Futures-Administrator



