Emas Saatnya Taking Profit
Harga emas melemah di sesi Selasa menyusul investor mengambil aksi ambil untung setelah emas mencapai level tertinggi 2 pekan, namun trader mengatakan emas berpotensi kembali menguat yang didukung oleh kekhawatiran soal keamanan dan juga potensi kembali melemahnya USD.
Jika berhasil break up level resistance maka emas berpotensi untuk terus menguat namun nampaknya apresiasinya akan terbatas menjelang libur pasar AS hari Rabu berkenaan dengan libur Hari Kemerdekaan AS (Independence Day). Salah seorang pengamat berpendapat jika emas dapat bertahan di atas level $650 maka ada peluang emas untuk melanjutkan apresiasinya. Harga emas spot tercatat di level $652.85/653.45 per ounce dibandingkan dengan $656.70/658.20 levelnya sesi New York hari Senin, ketika tercatat menguat ke level high $658.80, level tertinggi sejak 20 Juni. Apresiasi emas yang terjadi pada hari Senin berkaitan dengan upaya ledakan bom mobil oleh sebuah kelompok yang diduga terkait dengan jaringan al Qaeda dan juga upaya sebuah serangan di lapangan udara Scotlandia, serta turunnya nilai tukar USD.
Emas juga berpotensi untuk melanjutkan akselerasinya jika berhasil break up level $665.00 USD bergerak stabil setelah dalam 2 sesi mengalami koreksi tajam, bergerak di sekitar level rekor terendahnya terhadap euro menyusul investor menunggu hasil sidang bank sentral Eropa pekan ini yang mana berpotensi meningkatkan yeld mata uangnya. Concern terhadap kondisi sektor perumahan AS dan data inflasi AS, personal income dan spending yang dirilis lemah telah menekan USD.
Emas nampaknya akan mengalami tekanan akibat turunnya permintaan antara bulan Juli dan Agustus dan akan kembali meningkat di bulan September, demikian kata Suki Cooper, analis dari Barclays Capital. Sedangkan kondisi geopolitik juga berpotensi memicu kembali naiknya harga emas di pasar, demikian ujarnya. Sementara itu, harga minyak kembali turun ke level $72 setelah menembus level tertinggi 10 bulan di sesi sebelumnya, namun kalangan analis memprediksi meningkatnya permintaan untuk minyak mentah dari para pengusaha minyak AS serta faktor teknikal akan mendorong kembali naiknya harga minyak. Lemahnya USD, yang terkoreksi ke level terendah 26 tahun terhadap sterling, juga telah mendorong naiknya sejumlah komoditi seperti tembaga dan emas. London Brent crude turun 25 sen menjadi $72.38 per barel setelah mencapai level $72.77 hari Senin sebelumnya, level tertingginya sejak 25 Agustus. Sedangkan U.S. crude turun 30 sen menjadi $70.79.



