Perak Hit Terendah Selama 3-1/2 Bulan
Perak menyentuh level terendah 3-1/2 bulan dan emas mempertajam koreksinya di sesi Selasa kemarin, menyusul turunnya harga minyak dan melemahnya harga logam lainnya yang memicu tekanan jual. Prospek kenaikan suku bunga global juga turut menekan harga logam mulia, dengan kecenderungan melemah sebelum mengalami rebound.
Harga emas di pasar spot turun ke level low $646.40 per ounce, level terendahnya sejak 14 Juni, dan terakhir bertengger di sekitar level $646.70/647.30, dibandingkan $650.80/651.40 di sesi New York hari Senin. Emas telah berupaya menguat dalam beberapa hari terakhir ini namun masih mengalami tekanan. Hal ini akibat sifat emas yang no yield (aset tanpa adanya yield). Emas berpotensi melanjutkan koreksinya menuju level $630-an setelah di sesi New York semalam terkoreksi di bawah level $645. Sementara harga perak spot terkoreksi ke level low $12.53 per ounce, level terendahnya sejak 5 Maret dan terakhir berada di level $12.54/12.57, dibandingkan $12.845/12.875 di sesi New York.
Faktor lainnya yang memberi tekanan pada emas adalah turunnya harga minyak yang terkoreksi ke sekitar level $71 per barel menyusul berlimpahnya stok minyak di AS dan potensial meningkatnya ekspor minyak mentah dari Nigeria. Pelaku pasar tengah menantikan serangkaian data ekonomi AS berikunya dalam pekan ini seperti sidang reguler The Fed yang akan memberikan keputusannya hari Jum’at dini hari nanti, dimana tengah dinantikan pandangan The Fed mengenai kondisi ekonomi AS.
Pandangan yang positif mengenai sehatnya perekonomian AS akan berpotensi memberi tekanan pada harga emas dan mendukung apresiasi USD. Namun demikian, pasar masih khawatir terhadap tidak tercukupinya kebutuhan terhadap gasoline pada puncak musim tamasya (driving season) tahun ini dan naiknya harga minyak mentah akan mendorong penguatan pada harga emas.



