Monday, June 11, 2007

Emas terkoreksi 2.2% ke level terendah 3 bulan pada hari Jum’at lalu, menyusul penguatan USD dan maraknya tekanan jual pada bursa saham memicu para spekulan memangkas posisinya.

Harga logam mulia lainnya juga turun ke level terendah sekitar sepekan, namun kalangan analis berpendapat physical buyers and bargain hunters nampaknya akan mencegah koreksi berlanjut pada emas.

Salah seorang analis berpendapat koreksi emas nampaknya akan terjadi dalam waktu 1 atau 2 pekan kedepan tapi tidak sampai menyebabkan collapse.

Emas terkoreksi ke level low $645.15 per ounce, level terendah sejak 15 Maret, dan terakhir bertengger di level $646.55/647.05, dibandingkan dengan $659.50/660.00 posisinya sesi New York hari Kamis, ketika mencatat koreksi sekitar $10. Tekanan jual secara umum dimulai di hari Kamis yang dipicu kekhawatiran naiknya suku bunga di AS.

Kenaikan tajam pada yield Treasury AS hari Kamis, yang merupakan lonjakan 1 hari terbesarnya untuk yield 10-tahun selama lebih dari 3 tahun terakhir, mencatat untuk pertama kalinya sejak Juli 2006 bahwa seluruh kurva yield akhirnya berada di atas 5%. Para investor melihat koreksi pada pasar equity menyusul tekanan jual pada saham global mendorong para investor yang berbasis di AS melikuidasi sejumlah foreign equity holdings mereka, sehingga menguntungkan USD.

Indeks saham Nikkei Jepang terkoreksi 1.5%, sementara indeks utama Inggris turun 0.7%, mengalami koreksi selama 5 hari berturut-turut. USD menguat secara umum menyusul naiknya yield Treasury AS dan juga laporan positif mengenai membaiknya defisit perdagangan AS di bulan April yang dirilis lebih baik dari perkiraan, dimana telah mendorong meningkatnya minat terhadap USD.

Tekanan inflasi akan berlanjut membangkitkan spekulasi mengenai prospek kenaikan suku bunga AS dimana akan menguatkan USD dan menekan emas. Selama sepekan terakhir, emas sempat menyentuh level $673.95, level tertinggi sejak 4 Mei, namun kemudian terkoreksi sekitar $20. Sepanjang kondisi ekonomi AS terlihat cerah maka akan membatasi penguatan emas.

Sementara ketidakpastian mengenai situasi geopolitik masih berpotensi mendorong penguatan emas sebagai safe haven. Namun dengan prospeknya saat ini, maka nampaknya masih sulit bagi emas untuk menembus level $700 per ounce.


Outlook Emas Pekan Ini

Data inflasi AS akan menjadi sorotan utama pasar pekan ini, menyusul lonjakan pada yield obligasi AS dan anjloknya bursa saham, dimana memunculkan spekulasi mengenai sehatnya kondisi ekonomi AS dan prospek kenaikan suku bunganya.

Sidang bank sentral Jepang an Swiss pekan ini juga akan menjadi perhatian pasar untuk melihat perkembangan berikutnya pada mata uang yen dan Swiss franc yang notabene memilki yield rendah.

Kekhawatiran bahwa bank-bank sentral dunia akan menaikkan suku bunganya lebih agresif dibandingkan perkiraan sebelumnya guna meredam inflasi telah menekan pasar obligasi dan mendorong yield Treasury AS melonjak ke level tertingginya sejak Juli 2006.

Sementara itu, USD telah mendapat sokongan menyusul investor telah merespon dengan menarik higher returns yang ditawarkan aset-aset AS. Investor tengah menimbang-nimbang apakah lonjakan tajam pada yield Treasury AS berkaitan dengan concern inflasi dan mereka akan mengamati data inflasi AS hari Jum’at pekan ini. Jika inflasi dirilis lebih tinggi dari perkiraan, maka akan memicu spekulasi. kemungkinan The Fed menaikkan suku bunganya. Keputusan sidang BOJ dan SNB pekan ini juga akan dicermati pasar untuk melihat perkembangan carry trade berikutnya. Dari 50 ekonom yang disurvey Reuters, seluruhnya merekomendasikan SNB bakal menaikkan suku bunganya dengan 25 basis poin menjadi 2.5%.

Sedangkan untuk BOJ, nampaknya masih akan mempertahankan suku bunganya di level 0.25%, namun rilis data GDP-Q1 nampaknya akan menaikkan ekspektasi suku bunga akan dinaikkan bulan-bulan berikutnya. Investor juga akan menyoroti data inflasi zona euro hari Kamis untuk melihat indikasi apakah ECB akan melanjutkan menaikkan suku bunganya paling tidak satu kali lagi di tahun ini. Jika inflasi dirilis lebih tinggi dari perkiraan, maka indikasi tersebut akan berkembang di pasar.

Data CPI Inggris hari Selasa juga akan menjadi perhatian investor untuk melihat langkah kebijakan BoE selanjutnya. Berbagai pidato penting dari para petinggi negara juga akan dicermati, diantaranya testimoni dari Presiden ECB Jean-Claude Trichet hari Senin di depan the European Parliament's Committeee on Economic and Monetary affairs. Di hari yang sama, anggota ECB dan juga gubernur bank sentral Irlandia John Hurley dan Presiden the Federal Reserve Bank of Cleveland Sandra Pianalto, akan berbicara mengenai kebijakan moneter pada sebuah konferensi di Dublin. Sedangkan Kepala The Fed Ben Bernanke akan berpidato di depan Fed Atlanta mengenai kebijakan moneter pada hari Jum’at.


The Ubuntu Counter Project - user number # 16649