Emas Relatif Stabil di Awal Pekan
Emas bergerak relatif stabil di sesi Senin kemarin setelah terkoreksi ke level terendah 2 bulan di pekan lalu, namun dalam waktu dekat ini nampaknya akan berupaya rebound. Emas terkoreksi ke level intraday low $656.60 per ounce sebelum kembali menguat dan bergerak ke sekitar level $660.95/661.45 pada pukul 21.49 WIB, dibandingkan dengan $660.90/662.40 posisinya di sesi New York hari Jum’at lalu, disaat harga terkoreksi ke level low $655.50.
Salah seorang analis berpendapat bahwa pekan ini akan diwarnai oleh sejumlah data penting khususnya dari zona Eropa, dimana sebelum data Eropa dirilis nampaknya pasar masih akan bergerak tipis. Meskipun prospek emas masih bullish tahun ini, namun saat ini kita tengah menghadapi musim panas dimana emas biasanya tidak cukup kuat apresiasinya selama periode tersebut. Pada hari Kamis lalu, emas spot terkoreksi ke level low $653.40, level terlemahnya sejak 20 Maret, namun koreksi tersebut telah memicu minat beli di hari Jum’at berikutnya.
USD menguat secara umum, mempertajam 3 pekan apresiasinya yang dipicu oleh positifnya data ekonomi AS yang telah memicu investor untuk mengurangi ekspektasinya terhadap peluang The Fed dalam memangkas suku bunganya dalam tahun ini. Kalangan analis mengatakan sentimen pasar telah berubah dimana investor melihat kondisi yang bearish dalam jangka pendek kedepan. Namun sentimen bullish untuk jangka panjang masih berlanjut. Sementara Novartis's pension fund yang berbasis di Swiss berencana untuk menginvestasikan 4% dari 14 milyar Swiss franc ($11.37 milyar) kedalam emas.
Harga minyak naik lebih dari $1 di atas $70 per barel pada hari Senin kemarin menyusul kerusuhan di Nigeria terus menghantui pasar mengenai kemungkinan terhambatnya suplai minyak dari negara Afrika tersebut.
London Brent melonjak $1.07 menjadi $70.49 setelah ditransaksikan di level $70.83 sebelumnya. Sedangkan crude oil AS naik 96 sen menjadi $65.90. Meningkatnya kekerasan di Nigeria sejak Februari 2006 telah memangkas sepertiga produksi minyak negara anggota OPEC tersebut dan memaksa ribuan warganya untuk melakukan evakuasi. Salah seorang analis mensinyalir kekerasan di Nigeria dan concern terhadap suplai gasoline AS menjadi penyebab melonjaknya harga minyak dunia kali ini. (RISET-iwan)